Kamis, 12 Juli 2012

Desk Klinik

Tahun ini, di MA, gue megang jabatan sebagai redaktur desk Klinik.

Ups, jangan karena mentang-mentang gue sekarang jadi redaktur, kerja gue lebih ringan dari reporter. Malah sebaliknya! Gue harus ngedit lima artikel setiap edisi (MA Klinik, Konsultasi, Tips dan Trik, MA Info, Asuhan Keperawatan). Ngedit aja udah nggak gampang, belom lagi follow-up reporter, ngasih nilai artikel, ngumpulin bank naskah, ngumpulin database narasumber, dan macem-macem lagi.

Tapi tenang, gue kali ini nggak mau ngeluh soal kerjaan gue itu. Malah sebaliknya.

Gue pengen cerita gimana gue bisa jadi redaktur desk klinik.


*

*

*

Sebelum masuk ke cerita utama, biarin gue jelasin dulu. Di MA ada lima desk, antara lain desk Headline, Klinik, Opini-Humaniora (Ophum), Ilmiah Populer (Ilpop) dan Liputan. Desk Headline ngurusin artikel-artikel di halaman terdepan MA, desk Klinik ngurusin artikel-artikel yang berkaitan dengan dunia klinik (tata laksana, diagnosis, pencegahan penyakit, dsb), desk Ophum ngurusin artikel-artikel opini dan humaniora (ya iyalah, you don't say?), desk Ilpop ngurusin artikel-artikel yang bobotnya ilmiah banget (ada artikel profil obat, profil alat kesehatan, intisari jurnal, dsb), dan desk Liputan ngurusin artikel-artikel yang harus diliput (liputan seminar, liputan institusi kesehatan, dsb). 

Selama gue masih jadi reporter junior, gue selalu membayangkan diri gue jadi redaktur liputan. Entah kenapa. Mungkin karena pas gue masih PPAB (program penapisan anggota baru a.k.a calon anggota), gue ditugasin ngeliput, and I really enjoy it. Meski pas jadi reporter junior gue sedikit kurang beruntung dalam ngedapetin seminar buat diliput, gue masih cinta sama liputan, dan gue pengen berbagi kebahagiaan gue dalam meliput itu ke orang lain.

Gue usahain segala hal supaya jabatan itu bisa jatoh ke tangan gue. Setiap orang yang gue temui selalu gue cekokin dengan keinginan gue itu, redaktur liputan, redaktur liputan, redaktur liputan. Waktu gue diwawancara PSDM, gue bilang tahun kedua nanti gue mau jadi redaktur liputan. Gue selalu berusaha sesemangat mungkin kalo lagi dapet rotasi di desk liputan. Gue jadi redaktur desk liputan Korpus (Koran Kampus) dengan harapan semoga para redaktur di MA bisa melihat bahwa gue cukup kompeten dalam mencari info acara atau seminar.

Sampe akhirnya tiba saatnya Rapat Tahunan Anggota (RTA).

Di RTA, kita bakal milih petinggi-petinggi MA yang baru (dalam hal ini, pemimpin umum, pemimpin redaksi, pemimpin direksi, dan pemimpin produksi). Tiga senior gue, Kak Dewi, Kak Fadhlan, dan Kak Johan maju mencalonkan diri jadi pemred.

Setiap kali salah satu dari mereka selesai presentasi, Kak Liwang (pemred lama) bakal nanyain siapa aja yang bakal mereka plot sebagai redaktur. Dan gue kaget setengah mati karena Kak Dewi dan Kak Fadhlan sama-sama pengen nunjuk gue jadi redaktur desk HEADLINE. Padahal, itu desk yang sangat sangat gue hindari, dan gue paling gak suka kalo ditempatin di situ. Syukurnya, Kak Johan baik sama gue dan nge-plot gue sebagai redaktur liputan.

Belakangan, Kak Johan yang kepilih jadi pemred, dan gue pun melonjak seneng. Gue bisa jadi redaktur liputan! Gue ngedapetin impian gue! Saat itu juga rasanya gue pengen nangis bahagia.

Tapi ternyata, Kak Johan punya pertimbangan lain setelah jadi pemred. Setelah diskusi sama Kak Liwang, gue dan Vrina (temen sesama reporter yang tadinya di-plot Kak Johan jadi redaktur desk klinik) pun dipanggil. Kak Johan ngejelasin, kalo dia sebenernya pengen ngejadiin Vrina redaktur liputan soalnya Vrina anggota BEM dan CIMSA yang pasti punya banyak akses ke berbagai acara dan seminar, tapi takut kalo dia ngejadiin Vrina redaktur liputan, Vrina bakal terlalu sibuk (dulu, desk liputan ada 8 artikel!!). Setelah bicara sama Kak Liwang, diputusin bakal ada pergantian grand design SKMA, dan artikel liputan bakal dipotong jadi ada 6 aja. Dan Kak Johan minta gue dan Vrina buat tuker peran, karena dia ngeliat gue lebih bagus di desk klinik. Dengan besar hati, gue pun bilang ya. Jadilah gue redaktur klinik.

Hari-hari berlalu. Gue sukses ngedit desk klinik edisi Maret-April. Meski ada satu artikel yang sedikit bermasalah, gue berhasil melalui semua itu dengan lumayan baik, makasih buat para reporter yang cukup kooperatif dan Kak Johan yang senantiasa mendukung gue. Masalah yang sama gue temui di edisi Mei-Juni, tapi setelah curhat mati-matian sama Kak Johan dan berdoa supaya gue nggak menzalimi orang, gue sukses juga ngedit semuanya.

Dan saat gue duduk di depan komputer, pikiran gue dipenuhi kecemasan karena keputusan gue kali itu bisa menyakiti banyak pihak tapi serius, gue nggak bisa menyalahi idealisme gue sendiri, dan gue harus melakukan yang terbaik demi desk klinik, desk gue, gue pun sadar....gue jatuh cinta sama desk klinik.

Setelah gue pikir-pikir, what's there not to love dari desk Klinik? Gue cuma punya lima artikel buat diedit. Gue gak perlu susah-susah main bahasa (meskipun nyari judul buat desk klinik bikin gue harus ngubek-ngubek thesaurus berjam-jam!!!). Gue bisa belajar banyak hal dari ngebaca artikel-artikel tulisan reporter. Dan yang paling asyik...nggak susah ngumpulin bank naskahnya. Nyari kontributor juga gampang. Satu-satunya yang gue sebelin adalah lead dan judulnya yang monoton, hehehe.

Dan sekarang, saat Kak Johan mutusin buat ngadain rotasi redaktur dan gue ditempatin di Desk Ophum, gue nangis....karena hati gue udah belongs to desk Klinik.

Bahkan gue gak akan keberatan kalo taun depan jadi redaktur lagi, hehehe.

Buat para reporter, tetep semangat yah! Terutama buat *piiip* yang pernah gue cecer seminggu penuh buat nulis ulang artikelnya, buat *piiiiiiiippp* yang selalu gue puji setiap kali rotasi di desk klinik, juga buat *pipip* yang pernah bikin gue nangis bahagia karena judulnya yang sangat kreatif (oke, yang terakhir ini bukan reporter, tapi whatever). I love you all, and I love Desk Klinik very very much!

Selasa, 08 Mei 2012

The Avengers

Sebenernya selama ini gue banyak posting tentang film-film yang baru aja gue tonton di twitter. Tapi karena satu dan lain hal, tentang film yang satu ini bakal gue post di blog.

Kenapa, oh kenapa?

Yah, salah satunya karena film ini OFFICIALLY adalah film favorit gue...at least, buat sementara ini hahaha.

Gue suka banget sama film ini. Oke, dari jalan cerita sama aktingnya sih nggak istimewa banget (dan gue sempet mikir, "Loki, lo nggak ngerti anatomi manusia ya?" pas dia mau nusuk jantungnya Hawkeye tapi malah nusuk dada sebelah kanan), tapi dari action dan special effectnya... KEREN PARAH.

Gimana mereka berantem terus di awal, tapi pada akhirnya they put aside their differences and learn to work together, under the command of Captain America.

Dan salah satu alesan kenapa gue suka banget film ini, adalah karena cowok satu ini:



Clint Barton a.k.a. HAWKEYE <3 <3 <3

Gue suka banget sama dia. Meskipun di awalnya dia sempet jadi jahat gara-gara pikirannya dikontrol sama Loki *spoiler alert* tapi akhirnya dia sadar lagi dan ngebantu The Avengers ngeraih kemenangan. Selain itu, dia juga nggak punya kekuatan super, dan itu justru jadi nilai plus buat gue. Karena meski dia bisa dibilang orang biasa, he is able to overcome his weaknesses and become the greatest archer in the world. Selama di film, panahnya nggak sekalipun meleset. Well, that's why he's called Hawkeye, right?

Yeah, sekarang dia resmi jadi superhero terfavorit kedua gue, setelah Daredevil tentunya. Coba dong bikin filmnya dia, terus di situ ada adegan dia rebutan Black Widow sama Daredevil. Pasti seru deh hehehe.

Tapi yang lain juga keren kok. Nih, bakal gue cantumin foto-foto mereka semua beserta adegan favorit gue tentang mereka:



Well, ini Tony Stark a.k.a Ironman. Dan sama kayak di film-film sebelumnya, perannya jadi orang nyebelin. Waktu pertama kali ketemu Thor, dia bilang, "Apa ibumu tahu kalau kau memakai tirainya?" dan waktu ketemu Loki, dia bilang, "Cuma ada satu Tuhan, dan bajunya tidak seperti itu." Well, kalo minjem istilahnya Nanda, dia itu scumbag. Tapi gue sendiri tau, kalo dia nggak kayak gitu, filmnya nggak akan terlalu menarik. Adegan kesukaan gue? Pertama, pas dia ngelempar misil ke pesawat Chitauri. Kedua, pas dia ketemu Loki dan Loki gagal nguasain dia gara-gara arc reactornya itu. Ngakak parah.



Yang ini, nggak usah ditanya lagi, Bruce Banner a.k.a Hulk. Awalnya sih gue nggak ngenalin dia (pas dia masih jadi manusia) tapi pas adegan dia ketemu Black Widow, gue langsung tau kalo itu Hulk. Kalo lagi jadi manusia, dia jenius parah dan gue nggak ngerti omongannya sama Tony Stark. Tapi pas jadi monster, dia sempet ngancurin pesawat Avengers. Adegan kesukaan gue, pas dia ngebanting-banting Loki. Agak nggak elit sih, tapi yaudah lah ya.



Nah, yang ini Thor (alias Goldilocks, hahaha canda). Satu hal yang menurut gue bikin karakter ini menarik adalah karena dia bukan manusia. Dia dewa petir dari Asgard yang sempet dikirim ke bumi karena sombong, dan harus ngelawan saudara tirinya sendiri, Loki. Salah satu dialog dari film ini yang menurut gue paling kocak adalah waktu dia ngomong sama Natasha, "He's my brother." Natasha ngejawab, "Dia ngebunuh 80 orang dalam 5 hari." dan dia diem sebentar terus bilang, "He's adopted." Ngakak parahh. Adegan kesukaan gue, waktu dia berantem berdua aja sama Loki.



The leader, Steve Rogers a.k.a Captain America. Kesan gue pertama waktu nonton film Captain America, kostumnya agak konyol dan Chris Evans agak kurang cocok meranin dia. Tapi di film The Avengers, kesannya dia lebih "dark" dan serius, dan dia bener-bener bisa jadi kapten buat The Avengers. Salah satu dialognya dia yang paling memorable buat gue adalah waktu dia nanya ke Nick Fury, "Apa bintang dan garis nggak terlalu old-fashioned?" dan Nick Fury jawab, "Kadang-kadang kita butuh sesuatu yang old-fashioned." Adegan favorit gue, pertama waktu dia ngelerai battle antara Ironman dan Thor, dan kedua pas dia mimpin semuanya di perang ngelawan Loki.



The last but not least, and the only woman in The Avengers (at least in the movie), Natasha Romanoff (though it should be "Romanova") a.k.a Black Widow. Gue suka karakternya karena dia, sama kayak Hawkeye, dia nggak punya kekuatan super, tapi emang dia jago beladiri dan main senjata. Meski gue sampe sekarang nggak bisa ngerti kenapa dia bisa tau rencana Loki buat ngelepasin Hulk. Selain itu, adegan romance-nya sama Hawkeye jadi pemanis buat film ini, tapi nggak berlebihan. Adegan favorit gue, waktu dia ngelawan musuh-musuhnya di awal film, dan yang kedua pas dia berduaan sama Hawkeye yang baru sadar.



This is the villain that must be battled by the Avengers, Loki. Dia aslinya adik tirinya Thor, tapi dia ngiri berat sama kakaknya itu gara-gara Thor lebih superior dalam segala hal dibandingin dia. Di film Thor, dia dibuang dari Asgard, tapi di film ini dia bikin perjanjian sama kaum Chitauri dan ngelawan The Avengers. Yang gue agak nggak suka, di sepanjang film perannya udah jadi orang jahat yang keren gimana gitu, tapi endingnya malah lemes gara-gara dibanting-banting sama Hulk.


Yah, mungkin sekian dulu deh yang bisa gue tulis tentang The Avengers. Panjang, emang, that's why gue gak bisa nulis cuma di Twitter. Dan gue nggak mau nulis lebih banyak spoiler, ntar nggak seru buat yang mau nonton, hehehe. Yang jelas, sekali lagi gue bilang gue cinta banget sama film ini dan gue cinta banget sama Hawkeye.^_^ Waiting for the second movie!

Senin, 09 April 2012

"Orang Pinter yang Pelit"

Oke, gue tau lo semua mungkin gak suka baca-baca kisah zaman SMP gue yang semua intinya adalah curhat hal-hal gak penting yang harusnya udah gue lupain dan maafin. Tapi masalahnya, gue gak bisa lupa. Maybe gue emang sedikit pendendam, dan gue merasa dengan ngeluapin di blog ini gue bisa sedikit bebas dari perasaan-perasaan jelek yang udah ngendep dari SMP.

Tapi, gue sendiri merasa kalo gue cuma pengikut pepatah, "forgive your enemies, but don't forget their names."

Jadi....kali ini kita bakal balik ke cerita masa SMP gue, yang terjadi saat gue kelas 2 SMP dan lagi ujian akhir semester.

-

Gue udah pernah cerita, gimana di SMP gue terkenal sebagai cewek pendiem, nerd, aneh, gak punya temen, dan pinter (sekali lagi gue gak bermaksud nyombong, ini predikat yang dikasih temen-temen sekelas gue). Tapi satu predikat yang paling gue inget nempel di gue (dan itu menggaung banget pas gue kelas 2 SMP) adalah cewek pinter yang pelit.

Bukan pelit soal duit ya. Oke, itu juga tapi orang-orang mana tau dan peduli kondisi dompet gue sih. Tapi yang gue maksud adalah pelit ngasih contekan.

Gue, sebagai cewek yang dulu dianggep punya otak lumayan dan hampir selalu masuk lima besar di kelas, sering jadi sasaran temen-temen sekelas gue yang males belajar dan ngandelin contekan buat nggak remed di setiap ulangan. Masalahnya, gue waktu itu cukup idealis dan gue punya prinsip, nggak akan ngasih contekan. Karena itulah, temen-temen sekelas gue jadi benci sama gue dan lantas ngejulukin gue cewek pinter yang pelit.

Waktu sekolah gue ngadain ujian akhir semester 2, kebetulan di saat yang sama lagi ada World Cup 2006. Bisa bayangin dong, seberapa heboh animonya. Temen-temen gue banyak yang nonton, bahkan sampe begadang. Tapi gue nggak, karena waktu itu gue masih anak baik-baik yang nggak akan nonton bola kalo lagi ujian, gue nggak kuat begadang, dan gue juga belom suka bola.

Di SMP gue waktu itu, ada kebiasaan buat baris di luar kelas sebelum masuk buat ngerjain ujian. Jadi, seperti biasa, gue waktu itu udah naro tas di dalem kelas dan ngikutin temen-temen gue keluar buat baris dulu sebelum diizinin masuk lagi. Waktu gue jalan keluar kelas, di depan gue ada dua temen sekelas gue, sebut aja A dan B. Dan mereka lagi ngobrol soal pertandingan semalem. Gue nggak maksud nguping, tapi gue tepat berada di belakang mereka jadi mau nggak mau gue denger. Lagian, mereka tau kok ada gue. Dan inilah kurang-lebih isi pembicaraan mereka:

A: Lo nonton pertandingan semalem?
B: Iyalah, seru banget. Lo nonton?
A: *dengan suara dikerasin sambil ngelirik gue* Pastilah. Yang nggak nonton kan cuma ORANG-ORANG PINTER YANG PELIT.
Gw: ..................................................................................................

Tega banget. Sumpah.

Apa dia kira dengan ngomong gitu, gue bakal ngerasa kesindir dan lantas ngasih contekan ke dia? Apa dia nggak ngerti kenapa gue nggak mau ngasih contekan? Soalnya gue mau dia belajar! Apa nantinya pas dia udah kerja, dia masih bakal ngemis-ngemis ke gue minta gue bantuin dia? Nggak kan?!

Well.

Sekali lagi gue bilang, gue bisa maafin perkataannya yang nyakitin gue, tapi gue nggak akan pernah lupa.